loading...

Menurut FAO (2003), kualitas air mempunyai dampak yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan penampilan larva. Rendahnya kualitas air pada media pemeliharaan dapat mengakibatkan pada rendahnya tingkat pertumbuhan, kelulushidupan, telatnya moulting atau perubahan stadia, peningkatan bakteri epibion dan deformity.
Subaidah dan Mulyadi (2004), menyatakan bahwa udang windu masih dapat hidup dan berkembang pada suhu 24 – 32 oC dan suhu optimal untuk pemeliharaannya antara 28 – 32 oC. Suhu pada media pemeliharaan sangat berpengaruh pada tingkat metabolisme dan kecepatan perubahan stadia. Larva akan mengalami perubahan stadia yang cepat bila dipelihara pada suhu yang tinggi. Akan tetapi, suhu yang tinggi mempunyai resiko yang buruk terhadap media pemeliharaan yaitu akan mudahnya bakteri dan jamur untuk dapat tumbuh. (Wyban and Sweeny, 1991).
Oksigen terlarut dalam media pemeliharaan membutuhkan kadar diatas 5 ppm. Kekurangan oksigen dalam media pemeliharaan dapat berakibat buruk pada tingginya tingkat kematian larva. Sedangkan salinitas yang diperlukan untuk pemeliharaan larva udang yaitu diatas 30 ppt (FAO, 2003).
Pemberian aerasi pada media pemeliharaan bertujuan selain untuk dapat meningkatkan kandungan oksigen terlarut tetapi juga berfungsi sebagai pencegah pengendapan sisa pakan dan feses pada dasar kolam. Kegiatan penyiponan dan pergantian air sebesar 20 – 50 % pada kolam pemeliharaan sebaiknya juga ilakukan dengan tujuan untuk mencegah terbentuknya endapan lumpur anaerobik didasar kolam.